Mengenang tanpa harus memaksakan diri sendiri.
Kadang aku ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Menatap matamu dan meyakini kau sedang bercanda. Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin kau yang menabur janji, kini kau cabut sendiri. Kau seperti orang yang tidak mengenalku. Kau biarkan aku tertinggal dengan perasaan yang kau tanggalkan. Katamu, akulah cinta yang gagal. Hati yang tak bisa bersama denganmu.
Kemana saja kau seseorang yang tak terbilang lagi didalam setiap doaku. Sekarang kau acuh tak acuh dan aku selalu saja teringat bayang bayangmu.Apakah kau akan mencintai seseorang yang dipilihkan paksa untukmu?
Aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya. Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Kau bisa dengan mudah melepasku. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah. Dipaksa iklas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?
Kini yang kurasa adalah sesak.
Ibarat batu yang menumpuk didadaku.
Kini aku mencoba belajar mengenang tanpa harus mengurungkan diri.
Terimakasih telah menjadi bagian terpenting dari hidupku.
Menatap matamu dan meyakini kau sedang bercanda. Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin kau yang menabur janji, kini kau cabut sendiri. Kau seperti orang yang tidak mengenalku. Kau biarkan aku tertinggal dengan perasaan yang kau tanggalkan. Katamu, akulah cinta yang gagal. Hati yang tak bisa bersama denganmu.
Kemana saja kau seseorang yang tak terbilang lagi didalam setiap doaku. Sekarang kau acuh tak acuh dan aku selalu saja teringat bayang bayangmu.Apakah kau akan mencintai seseorang yang dipilihkan paksa untukmu?
Aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya. Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Kau bisa dengan mudah melepasku. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah. Dipaksa iklas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?
Kini yang kurasa adalah sesak.
Ibarat batu yang menumpuk didadaku.
Kini aku mencoba belajar mengenang tanpa harus mengurungkan diri.
Terimakasih telah menjadi bagian terpenting dari hidupku.
Komentar
Posting Komentar